Friday, 27 October 2017

Cerpen “Siapa Yang Menanam Dialah Yang Memanen”


Jangan takut berbuat baik kepada sesama, karena perbuatan baik yang kita lakukan suatu saat akan bermanfaat pada kita sendiri. Itulah pelajaran yang aku dapatkan dari kisah seorang nenek penjual gorengan.
 
Cerpen “Siapa Yang Menanam Dialah Yang Memanen”
Cerpen “Siapa Yang Menanam Dialah Yang Memanen”
Wajahku berubah cemberut saat nenek penjual gorengan itu datang ke warung ibuku. Dapat aku tebak ibuku pasti akan memborong habis gorengannya, tanpa satu patah kata pun keluar dari bibirnya. “ibu harus bisa membedakan dong, antara berbisnis dan beramal!” ujarku saat itu juga.” Coba ibu lihat, tidak semua gorengan nenek itu akan habis, dan kalau sudah tidak laku ujung – ujungny kita pasti akan membuangnya, “protesku lagi. “apa tidak sebaiknya nenek itu menitipkan barang dagangannya pada kita, kemudian kalau ada sisa yang tidak laku dia bisa membawanya pulang?” aku masih berusaha keras menggurui ibuku yang hanya melihatku bicara  sambil tersenyum.

Setelah mendapatkan uang dari ibu, si nenek langsung masuk warung ibuku yang  berada tepat di sebelah rumahku. “Cu, tolong ambilkan gula setengah kilo, beras 2 liter, teh dua dan permen coklat satu untuk cucuku.” Aku mengambilkannya, namun sikapku sama sekali tidak merasa senang. Mungkin karena aku masih kesal pada nenek itu. Setelah membayar si nenek pun pergi dari warung ibuku. Tak aku duga ibu sudah duduk di belakangku. Beliau tersenyum dan mengajakku untuk duduk di kursi yang terletak  di teras warung.

“Kamu tahu kenapa selama ini ibu berbuat baik kepada nenek penjual gorengan itu?’’ aku bingung sambil menggelengkan kepala dan menjawab tidak.” Dua tahun yang lalu ketika si nenek masih kaya, dia suka memborong makanan di warung ibu. “ibu bercerita dengan membayangkan masa lalu itu.” nenek itu setiap hari pasti mengantarkan cucunya pergi ke sekolah di depan warung kita dia memarkirkan mobilnya, dan sesudah cucunya masuk kelas dia akan datang ke warung ibu lalu membeli makanan dalam jumlah yang sangat banyak untuk dibagi – bagikan kepada ibu – ibu yang sedang menunggui anak–anaknya bersekolah.

Menurut  cerita, si nenek ia juga akan menengok siapa saja yang sakit baik tetangganya yang dekat rumahnya ataupun tetangga yang jauh dari rumahnya. Saking baiknya si nenek, kalau memborong makanan ia tidak pernah mau mengambil uang kembaliannya. Terkadang ibu sampai merasa malu dengan si nenek.  Dari situ ibu dapat menilai bahwa nenek itu nenek yang sungguh dermawan.”

Tetapi suatu hari si nenek yang dermawan itu tiba- tiba menghilang. Entah kemana nenek itu pergi. Selama beberapa bulan  ibu tidak melihat nenek itu lagi. Ibu mengira kalau nenek itu sakit atau pindah rumah. Karena itu ibu mencari tahu dengan bertanya-tanya pada ibu – ibu yang sedang menunggui anak – anak mereka di sekolah. Dan memang benar ada masalah dengan kehidupan si nenek itu. Ibu – ibu bercerita kalau perusahaan putra nenek itu sedang terjadi masalah, tetapi masalah apa mereka tidak tahu.”

Hingga suatu hari ada seorang nenek yang sudah tua renta, bungkuk, kurus, dan kumuh datang kewarung ibu dengan membawa gorengan dipunggungnya. Sekilas ibu tidak mengenalinya. Tetapi setelah ia mendekati dan menawarkan dagangannya kepada ibu, ibu baru sadar kalau dia adalah si nenek yang dermawan. Nenek yang tadinya naik mobil, saat itu hanya mengendarai sepeda tua. Ibu pun bertanya kepada nenek itu “nenek darimana saja, ko tidak pernah kelihatan kemarin – kemarin? lalu nenek itu bercerita kalau perusahaan putranya terjadi kesalahan dalam pengelolaan keuangan dan telah tertipu oleh perusahaan asing yang pernah bekerja sama dengan perusahaannya. Sekarang nenek itu berjualan gorengan  membantu putranya mencari uang untuk kehidupan sehari – hari. Sedangkan putranya mencari uang menjadi tukang sol sepatu berkeliling.


Setelah bercerita panjang lebar, akhirnya kami menangis bersama. Dan sejak saat itu, ibu selalu membeli gorengannya entah itu laku atau tidak, karena ibu berpikir hanya dengan cara itulah ibu dapat membantu kesulitan si nenek.

“Nak, kita harus bersyukur kepada Tuhan karena Tuhan masih memberikan rezeki yang cukup untuk kita. Karena itu kita tidak boleh menutup mata terhadap kesulitan orang lain. Kalu kita bisa sedikit saja meringankan beban orang lain, kenapa tidak kita lakukan?” kata ibu sambil mengusap lembut rambutku.


Sejak saat itu sikapku jadi berubah terhadap si nenek penjual gorengan. Dari cerita hidupnya itu aku  sangat kagum. Aku dapat  memetik pelajaran berharga tentang pentingnya saling menolong dan bersedekah. Roda kehidupan terus berputar, sekali  waktu diatas, pada waktu lain di bawah. Saat sedang di atas jangan pelit untuk berbagi, seperti yang telah di lakukan si nenek. Ketika roda kehidupannya sedang berada dibawah, orang – orang yang prnah merasakan kebaikan hatinya pun pasti mau membantunya.

No comments:

Post a Comment