Saturday, 2 September 2017

CERPEN “BERINTERAKSI DENGAN TEMAN”



Bel telah dibunyikan, pertanda jam pelajaran akan segera dimulai. Meskipun begitu, suasana di kelas X-IPA 1 masih terlihat ramai. Masih banyak anak-anak yang mengobrol, bahkan ada yang duduk di atas meja. Semua nampak becengkrama, terkecuali Dio. Dio masih nampak fokus terhadap smartphone-nya. Ia adalah anak yang terbilang cerdas di kelasnya, namun ia jarang sekali berinteraksi dengan teman sekelasnya.
 
CERPEN “BERINTERAKSI DENGAN TEMAN”
CERPEN “BERINTERAKSI DENGAN TEMAN”
Dio anak tunggal dari keluarga kaya raya. Ayahnya bekerja sebagai dokter di Rumah sakit ternama di kotanya, sedangkan ibunya adalah seorang dosen di Fakultas Negeri Jakarta. Hal ini membuatnya jarang mendapat kasih sayang dari orang tuanya. Setiap hari ia diasuh oleh pembantunya, yang kadang dia anggap sebagai ibunya sendiri. Ya, memang seperti itu keadaanya, pembantunya selalu menanyakan bagaimana sekolahnya, dan memperhatikan dirinya. Tidak seperti orang tua mereka yang sibuk bekerja bahkan di “weekend” sekalipun. Mereka selalu pergi pagi dan pulang malam.

Hal itu tidak membuat Dio marah ataupun durhaka kepada orang tuanya. Ia sudah mengerti akan kondisi yang harus dialami kedua orang tuanya itu. Namun, hal yang sangat berpengaruh disini adalah Dio yang sulit sekali berinteraksi dengan orang lain. Ia merasa bahwa berinteraksi dan bermain bersama teman adalah membuang-buang tenaga. Ia tidak terlalu suka menjadi pusat perhatian, bahkan ia cenderung membisu saat di kelas.

Banyak yang menggunjingnya ia tidak akan punya teman, ataupun ia pasti akan bunuh diri. Namun nyatanya, ia punya satu teman, yaitu smartphone-nya. Smartphone-nya mungkin adalah satu-satunya teman yang ia miliki. Karena ia tidak mempunyai seorang teman. Pernah ada yang mencoba untuk berteman denganya namun ia selalu cuek dan mengasingkan diri.

Dio pernah dibawa oleh gurunya untuk tes, siapa tahu dia mengalami gangguan jiwa ataupun menjadi seorang pecandu. Namun nyatanya tidak, dia tidak sakit apa-apa, bukan juga seroang pecandu. Ini adalah murni prinsip hidupnya, yang menganggap berteman dan bermain adalah sesuatu yang melelahkan. Di rumah-pun ia tidak jarang sekali bercengkrama dengan tetangganya, jangankan bercengkrama, keluar ruamah pun dia sangat jarang. Dia benar-benar seorang yang suka sendiri.

Pada jam pertama pembelajaran hari itu, mereka mendapat jatah jam olahraga. Serentak semua siswa berganti pakaian dan pergi ke lapanan olahraga, untuk melakukan pemanasaan. Jam olahraga adalah jam yang paling dibenci oleh Dio, pasalnya pada jam olahraga ini semua siswa tidak diperkenankan bermain smartphone, artinya Dio selalu merasa bosan dan kesepian saat berolahraga. Sangat terbalik dengan teman-temanya yang lain.


Saat itu guru meberi tahu bahwa materi hari ini adalah bulutangkis. Setiap siswa harus bertanding 2 lawan 2 untuk mendapatkan penilaian. Saat itu juga mereka berkelompok dengan pasanganya masing masing. Putra maupun putri bebas. Kebetulan saat itu Riri terlambat datang dan pada akhirnya dia berpasangan dengan Dio yang memang tidak pernah berkelompok.

Riri pun protes pada pak guru. Dia meminta untuk bermain sendiri saja. Dia tidak sudi berkelompok dengan orang seperti batu. Namun pak guru menolak keras permintaan Riri, menurutnya orang sperti Dio itu harus diperhatikan, bukan diejek dan dikucilkan.

Dio tidak memproteskan keputusan Pak gurunya karena ia menganggap bahwa marah hanya merepotkanya. Karena ia memegang teguh prinsip hidup “tidak mau repot”nya itu. Saat sesi penilaian dimulai, Dio terus kebingungan, Riri juga begitu, karena mereka berdua sangat jarang berbicara satu sama lain.

Saat giliran mereka tiba, Riri sangat gelisah karena merasa bahwa Riri akan mendapat nilai jelek, karena satu team dengan orang yang ia anggap payah itu. Tim Dio dan Riri bertanding melawan Tim Aldo dan Putri. Pada set pertama Dio kalah telak dengan skor 21:3. Itupun Riri semua yang memberikan angka. Saat istirahat, Dio berbicara sangat pelan “aku benci kekalahan”, yang secara tidak sengaja terdengar oleh Riri. Sontak saat itu Riri berbicara sangat keras didepanya dan menyuruhnya bermain dengan benar.

Saat itu Dio kaget, baru bukan hanya kali ini dia mendapat bentakan dari seseorang memang, tapi dia dapat merasakan bahwa bentakan dari Riri adalah bentakan pertama yang dapat meluluhkan prinsipnnya. Saat itu juga Dio berkata bahwa dia dan Riri harus menang.dan benar saja pada set ke 2 dan 3 tim mereka berhasil menang.

Sepulang sekolah, Riri mencoba untuk berbicara kepada Dio namun Dio mengacuhkanya. Riri berkata bahwa Dio anak yang pintar dan berbakat. Saat itu Dio mengucapkan terima kasih, yang sontak mengagetkan Riri kembali. Riri pergi meninggalkan Dio yang masih bermain game di kelas sambil senyum-senyum sendiri.

Keesokan harinya kepala sekolah dan guru olahraga menyuruh Riri dan Dio mewakili sekolah dalam lomba Bulu Tangkis se kabupaten cabang ganda campuran. Mereka berdua akan di bina di asrama bersama para peserta dari sekolah yang sama. Karena itu permintaan sekolah, Dio dan Riri tak bisa menolaknya. Mereka menjalani pelatihan selama satu bulan.

Sejak saat itu Dio mempunyai teman baru yang sangat akrab yaitu Riri. Riri adalah partner bulutangkisnya. Karena mereka berdua sangat akrab banyak yang mengatakan mereka berdua berpacaran.

Hari perlombaan dimulai, mereka berdua mengusung tujuan kemenangan. Dan benar saja mereka berdua memenangkan perlombaan itu. Keesokan harinya mereka berdua mendapat penghargaan dari sekolah. Mulai hari itu, Riri selalu mengajak Dio untuk berinteraksi dengan teman sekelasnya, dan semua berjalan sesuai dengan keinginanya. Dio mempunyai banyak teman sekarang. Bahkan ia cenderung lebih sering mematikan smartphone-nya dan lebih memilih untuk bercengkrama dengan lainya. Dan yang lainya pun sadar, bahwa kita harus memperlakukan orang dengan baik dan tulus, maka orang itu juga akan mulai berbuat baik pada kita.Dio sekarang mempunyai banyak teman, bahkan dari kelas lain juga sudah mulai mengenalnya.dan ia hidup menjalani masa sekolahnya dengan wajar.

            

No comments:

Post a Comment