Tuesday, 5 September 2017

CERITA PENDEK (CERPEN) “HARGA SEBUAH KEJUJURAN”


Suara azan sudah terdengar dari tadi. Petanda waktu sholat subuh masuk. Seorang remaja masih saja membolak-balik badannya di tempat tidur. Gelisah, begitulah yang dia rasakan. Semenjak mendapat sms balasan dari operator dinas pendidikan di kotanya tengah malam tadi, badannya terasa lemas. Dadanya sesak, seperti dihimpit oleh batu besar. Dia dinyatakn tidak lulus Ujian Nasional (UN).
 
CERITA PENDEK (CERPEN) “HARGA SEBUAH KEJUJURAN”
CERITA PENDEK (CERPEN) “HARGA SEBUAH KEJUJURAN”
Namanya Bagus Hidanyanto. Teman-teman sekolah biasa memanggil Bagus. Dia adalah sulung dari dua bersaudara. Ayahnya Bagus saat ini bekerja sebagai pegawai negeri sipil disalah satu dinas lingkungan pemerintah kota. Sedangkan Ibunya yang bernama Mutia adalah guru SD. Alfi adalah adik satu-satunya saat ini duduk di kelas dua SMP. Alfi Nur Latifah, demikian nama lengkapnya.

Bagus kembali memagut bantal guling dan menarik selimutnya. Empuknya spring bed dan hangatnya selimut tidak bisa membuatnya tidur nyenyak. Pikirannya selalu tertuju kepada balasan sms itu. Setiap buka sms itu, dadanya terasa sesak. Gelisah, cemas, tak enak hati, semua bercampur menjadi satu.

Dadanya semakin sesak ketika masuk sms dari kawan-kawannya yang menyatakan bahwa mereka lulus. Bagus hanya bisa tersenyum setiap sms yang masuk. Mereka juga bertanya bagaimana dengan dia.

Tak satupun sms dari kawan-kawannya yang dibalasnya. Termasuk sms dari Budi, kawan akrabnya semenjak SMP. Budi merupakan teman satu kelasnya di SMA. Setelah lulus dari SMP dulu, mereka barjanji untuk mendaftar di SMA yang sama. Meskipun mereka diterima di SMK yang sama, namun mereka berbeda kelas di kelas satu. Dan baru di kelas tiga mereka kembali satu kelas.

Perlahan Bagus bangkit dan duduk di samping tempat tidurnya. Pikirannya kembali berkecamuk. Bingung, apa yang harus ia katakan kepada orang tuanya. Bagaimana kalimat pertama yang harus diucapkannya. Takut, membayangkan kemarahan ayahnya. Sedih, membanyangkan wajah ibunya yang kecewa.

Dibukanya pintu kamarnya dan segera dia ke kamar mandi untuk mencuci muka dan berwudu. Begitu lewat didepan kamar orang tuanya lagi-lagi pikirannya berkecamuk. Ahhh…wajah ibu yang sedih dan muka ayah yang merah menahan amarah, melintas di pikirannya.

Segera di tepisnya pikiran itu. Di dalam kamar Bagus memulai sholatnya. Berusaha untuk khusyuk. Namun sesekali itu terus mengganggu kekhusyukkan sholatnya. Setelah mengucapkan salam ke kanan dan ke kiri, Bagus pun menengadahkan kedua tangannya, berdoa kepada Alloh, terdengar lirih suaranya:

Ya Allah, Ya Rahman….
Di pagi ini, kembali ku hadapkan wajahku kepadaMU.
Telah Kau beri ketetapan atas diriku.
Meskipun Aku telah berusaha semaksimal mungkin.
Namun, Engkau sungguh mahakuasa atas segalanya.
Ketika Kau telah berucap Kun Fayakun.
Taka da seorangpun, atau sesuatu apapun yang mampu menghalanginya.
Ya Allah, Ya Rohim….
Aku hanya memohon kepadaMu, kuatkan hati ini untuk menerima ketetapanMu.
Sebagai mana Engkau kuatkan diriku untuk bersikap jujur dalam ujian.
Ku abaikan bantuan kawan-kawanku yang memberi contekan.
Ya….contekan jawaban…
Yang katanya berasal dari guru-guru kami.
Ya Allah, Ya Tuhanku….
Berikanlah kekuatan bagiku untuk menjelaskan semua ini kepada ayah dan ibuku.
Berikanlah kelapangan hati bagi mereka untuk menerima kegagalanku ini.
Perkenankanlah Ya Allah….
Amin….


Bagus kembali duduk di samping tempat tidurnya. Sesekali dia mengintip keluar kamar untuk melihat apakah orang tuannya sudah bangun. Pikirannya kembali menerawang. Kali ini dia mengingat saat menghadapi ujian nasional. Dia mendapatkan bisikan dari kawan-kawannya bahwa ada kunci jawaban di dinding kamar mandi sekolah. Beberapa temannya sudah mendapatkan kunci jawaban tersebut.

Bagus tidak menggubris hal itu, ia terus saja menggerjakan soal-soal yang ada di depannya. Satu persatu soal mampu dikerjakannya. Ketika dia mendapatkan soal yang sulit, muncul kebimbangan dalam hatinya. Ingin rasanya meminta kunci jawaban tersebut. Namun teringat nasehat guru ngajinya dulu ketika masih belajar di madrasah, bahwa keberhasilan yang di dapat dengan kebohongan tidak akan berarti apa, membuatnya mengurungkan niatnya itu. Nilai kejujuran itu masih tertanam dalam dirinya hingga saat ini.

Sesaat kemudian, Bagus merebahkan dirinya ke atas tempat tidur. Di pagutnya kembali bantal gulungnya. Selimutpun di tarik menutupi kaki hingga dadanya. Bagus tersenyum sendiri mengingat suatu kejadian yang menarik perhatiannya. Saat itu, seorang panitia ujian memasuki ruangan ujian untuk mengambil absen pengawas ujian. Panitia ujian itu berusaha mengajak pengawas ujian untuk berbincang bincang. Kesempatan itu di manfaatkan oleh kawan-kawannya untuk saling memberi contekan. Keberadaan panitia ujian itu seolah-olah mengalihkan perhatian pengawas terhadap perserta ujian.


Keteguhan hatinya untuk jujur dalam mengikuti ujian nasional, sedikit mengobati kegelisahannya. Timbul secercah kepercayaan dalam dirinya. Tampa terasa kantukpun menyerang matanya. Sesaat kemudian dia terlelap. Kemudian Bagus terbangun ketika terdengar suara Alfi yang memanggil-manggil namanya sembari mengetuk pintu kamarnya.

Sambil mengucek-ngucek matanya. Bagus segera keluar kamar mengikuti Alfi menuju ke ruang makan. Disana ayah dan ibu sudah menunggu mereka untuk sarapan pagi. Sebelum duduk di kursi, segera Bagus menyatakan kepada ayah, ibu dan adiknya perihal ketidaklulusannya. “Yah, Bu maafkan Bagus, Bagus tidak lulus UN”.

Mendengar hal itu, seperti di takutkan oleh Bagus. muka Ayah berubah menjadi merah. Dia begitu marah mendengar berita itu. Dia tidak menyangka kalau anaknya akan gagal dalam ujian UN. Padahal ia sendiri melihat anaknya begitu sibuk belajar mempersiapkan diri menghadapi UN.

Kemarahan ayah berusaha diredam oleh ibunya, dengan menggosok pundak suaminya itu pelan-pelan. Meskipun diwajah tersirat perasaan kecewa yang dalam. Hal itu terlihat jelas oleh Bagus. Terbersit dalam hatinya perasaan bersalah. Alfi yang sedari tadi memperhatikan hal itu, merasa ikut prihatin atas kegagaln kakaknya.

Sesaat kemudian Bagus melanjutkan penjelasannya, “Yah, Bu meskipun Bagus gagal dalam UN ini, namun Bagus merasa terhormat. Bagus menjawab soal-soal dengan pikiran dan ilmu Bagus sendiri. Bagus tidak mencontek sedikitpun. Meskipun kawan-kawan Bagus mendapatkan kunci jawaban dan berusaha membantu Bagus, namun Bagus menolaknya. Bagus tidak ingin menyelesaikan UN dengan cara yang curang. Bagus masih ingat kata Pak Somad guru ngaji Bagus dulu, bahwasannya keberhasilan yang didapat dengan kebohongan tidak akan berarti apa-apa”.

Mendengar itu ,ayahnya mulai reda kemarahannya. Rasa kagum menyelimuti hatinya mendengar penjelasan dari anaknya. Pun juga dengan Ibunya yang dalam hatinya tersenyum mendengar kejujuran anaknya.

Baguspun melanjutkan penjelasannya, “Bagus berjanji akan belajar lebih giat lagi untuk menghadapi UN ulangan yang tidak berapa lama lagi akan diadakan. Bagus akan tetap memegang prinsip kejujuran dalam ujian itu. Doakan Bagus ya Bu, Ayah”.

Setelah itu mereka berempat berpelukan. Tidak ada lagi rasa marah, kecewa, dan sedih. Yang ada hanya rasa kagum. Kagum akan nialai kejujuran yang akan terus dipertahankan. Sore itu, sepulang kerja Ayah dan Ibunya duduk di depan televisi menonton berita. Hanya mereka berdua yang berada di rumah. Alfi dijemput oleh kawannya untuk menjenguk gurunya yang sakit, sedangkan Bagus tadi pamit hendak ke took buku mencari buku pelajaran yang gagal di lewati dalam UN.

Ditemani kopi hangat dan gorengan, Ayah dan Ibu mendiskusikan tentang berita seorang pelajar yang nekat bunuh diri karena tidak lulus UN. Ada juga pelajar yang pingsan mendengar ketidaklulusannya. Mereka bersyukur karena Bagus anak mereka yang bisa menerima kegagalan dalam UN.





No comments:

Post a Comment