Saturday, 16 September 2017

Cerita Pendek (Cerpen) “Cinta dari Lubuk Hati”


Pada suatu hari aku sedang tidur dengan enaknya. Tiba-tiba ada jam beker berbunyi. “Kring kring kring”, jam bekerku berbunyi. Aku bergegas bangun untuk segera mandi. Hari ini memang hari yang berbeda. Ya… tentu saja, hari ini adalah hari pertamaku masuk sekolah setelah libur semester I ke sekolah baru aku. Aku berpindah sekolah karena pekerjaan ayah ku yang menuntut untuk kita sekeluarga berpindah tempat tinggal. Ayahku di tugaskan bekerja di luar kota.
 
Cerita Pendek (Cerpen) “Cinta dari Lubuk Hati”
Cerita Pendek (Cerpen) “Cinta dari Lubuk Hati”
Tepat pukul 06.30 aku segera berangkat sekolah ke sekolah baru aku. Aku berangkat dengan di antar oleh ayahku. “Ozza.. kamu sudah siap ke sekolah barumu nanti kan?” Tanya ayah kepadaku. Ozza adalah nama panggilan ku sejak kecil. “iya yah, pasti yah!” jawabku penuh semangat.

Sesampainya di sekolah, ayahku menemui kepala sekolah di ruang kepsek. Aku tak tahu apa yang mereka bicarakan. Tidak lama kemudian ayahku keluar dan berpamitan pulang kepadaku. Upacara bendera sudah di mulai. Tapi aku tidak berdiri di barisan teman-teman ku. Aku menunggu di lobi sekolah. Tak lama kemudia upacara telah usai. Aku diantarkan oleh kepala sekolah ke kelas baruku, hatiku berdebar rasanya ketika akan masuk kelas baruku. “Selamat pagi anak-anak... hari ini kalian akan mendapat teman baru, dia pindahan dari SMK N 2 MERAH PUTIH, sIlahkan Ozza” sapa pak kepsek padaku, sinambi menyuruhku memperkenalkan diri. Aku menarik nafas panjang untuk membuat rileks suasana hatiku. “Pagi teman-teman, perkenalkan namaku Wirawan Putra Oriza. Aku biasa di panggil Ozza, aku lahir di Kebumen 27 februari 1998. Aku tinggal di jalan anggrek no.5. Aku harap kita bisa menjadi teman akrab untuk kedepannya. Demikian perkenalan dari ku, kurang lebihnya mohon maaf.” Hati aku masih berdebar, aku takut apabila teman baruku tidak menyukaiku. “Nah nak Ozza, Silahkan duduk di kursi itu,” kata pak kepsek padaku. “Terima kasih pak” jawabku halus.

“Hai ozza, selamat datang yah, kenalin nama aku Leonanda, kamu bisa panggil aku Leo”, Sapa lelaki tinggi, berkulit sawo matang, dengan rambut yang lurus potongan mohak itu, dia sangat gagah dan keren. “Terima kasih Leo, senang bisa berkenalan denganmu, kamu teman pertama yang aku kenal di kelas ini”  jawab ku dengan senyum riang gembira.

Akhirnya bel istirahat berbunyi, aku dan Leo pergi ke kantin bersama. Pertemananku dengan Leo semakin erat, hari-hariku disekolah sangat menyanangkan. Teman-temanku sangat baik padaku. Kelas kami sangat kompak. Aku sangat bahagia dan merasa beruntung berada diantara mereka.

Hari ini terasa sangat panas, terik matahari serasa membakar dan mendidihkan isi kepalaku yang penuh dengan angka-angka setelah ulangan matematika. Apalagi suasana kantin yang penuh sesak ketika jam istirahat seperti ini, membuat kepalaku yang sudah mendidih serasa hampir meledak. Aku memilih untuk pergi ke perpusatakaan, kuharap suasana perpustakaan yang sejuk dan tenang akan membuat aku merasa nyaman. Kutelurusi deretan rak buku sains untuk mencari buku biologi, “ah... akhirnya ketemu juga..” gumamku. Kubawa dua bendel buku biologi tebal ditangan kiriku dan satu jurnal biologi yang sedang kubaca ditangan kananku. Brukkk... tiba-tiba tubuhku jatuh terlempak ke lantai keramik putih yang sudah mulai usang. “apa-apaan ini!” teriakku spontan. Tanpa kusadari aku sudah menjadi pusat perhatian seluruh pasang mata pengunjung perpustakaan siang itu, spontan saja aku langsung mencaci orang yang menabrakku tanpa melihat orangnya ternyata.. Wow... sontak hatiku terkejut. Dia adalah Farah cewek tercantik dan anggun di sekolahku, dan aku pun sudah mengagumi nya sejak lama. Farah membantuku membawakan buku ke kelas. Kami pun sempat ngobrol-ngobrol sedikit. Farah tidak hanya cantik tetapi juga sopan dan baik. Hatiku berdebar tak tentu, apakah mungkin aku menyukainya?? Oh aku bingung.

Setelah kejadian itu tentu saja aku langsung menceritakan pada sahabatku, Leonanda dan Leo pun tersenyum mendengar ceritaku. Tapi saat aku mengatakan pada Leo bahwa aku menyukai Farah, Leo terlihat sangat terkejut. Mungkin saja dia tidak percaya bahwa cowo yang terlihat masih ke kanak kanakan sepertiku bisa jatuh cinta.

Beberapa hari aku merasa ada yang berbeda dengan Leo. Leo selalu menghindar dan berusaha mengalihkan pembicaraan saat aku sedang membahas Farah. Sungguh aku tak tau, mungkin saja Leo memang tidak suka membahas tentang cewek. Dia memang di segani di kelas selain Leo ketua kelas, Leo juga orang yang tegas dan bijaksana. Maka dari itu teman-temannya begitu segan padanya.

Di suatu hari sepulang sekolah tiba-tiba Farah datang menghampiriku “Hai ozza, nanti sore ada acara gak?” Tanya Farah padaku. “Hai juga Farah nanti sore aku free kok gak ada acara, memangnya ada apa tumben nanya begitu?” Sahutku. “Gini loh za, nanti sore aku mau beli buku di toko buku, kalau kamu gak keberatan, kamu mau gak nemenin aku? Denger-denger kamu kan suka baca buku, jadi siapa tau ntar bisa bantu cari buku yang bagus buat aku, itu ya kalo kamu gak keberatan sihh?”. Dalam hatiku berkata, seakan tidak percaya “Hahh?? Farah ngajakin aku jalan, badanku udah kaya di samber geledek, tentu saja aku nggak nyia nyiain kesempatan ini. Aku pun menjawab “Aku ngga keberatan kok Far, ya udah nanti sore jam 16.00 aku jemput kamu yaa di taman deket rumahmu” Kataku sambil tersenyum dan melambaikan tangan.

Hari ini aku benar-benar bahagia, aku tak lupa menceritakan kebahagiaan ku ini pada Leo sahabatku, tapi seperti biasa, Leo hanya tersenyum mendengar ceritaku dan berusaha mengalihkan pembicaraan. Tak terasa sudah pukul 15.30, aku langsung mandi dan bersiap untuk menjemput Farah di taman dekat rumah nya. Sesampaiya di sana ku lihat Farah sudah menunggu. “Hai Far maaf yaa.. baru sampai tadi bantu ibu dulu di rumah” sapa ku padanya. “ohh iya gak papa kok za, lagi pula aku juga baru saja menunggu, ayo kita langsung jalan” jawab Farah dengan senyum manisnya

Sesampainya di toko buku, Aku dan Farah pun langsung memilih-milih buku yang telah tersusun rapi di rak buku di toko tersebut. Nah ini buku yang ingin ku cari fikirku, langsung saja ku ambil bukunya. Tapi tanpa sengaja Farah juga mengambil buku itu secara bersamaan dengan ku. “Ozza maaf ya, aku ngga sengaja pegang tangan kamu” ucap Farah sambil tersipu malu. “Oh iyaa gak papa Far lagi pula aku juga ingin mengambilkan buku ini untukmu” jawabku sambil tersenyum. “Makasih ya Ozza” jawabnya. Jam sudah menunjukkan pukul 18.00 kami pun pulang ke rumah.

Malam ini terasa sangat spesial buatku, Pasalnya hari ini sangat membuat hatiku bahagia. Pikiranku tak pernah lepas dari sosok Farah. Dari pada hatiku bimbang tak tentu seperti ini, mendingan ku ungkapkan saja perasaan ku kepada Farah. Langsung saja ku ambil telefon genggam ku. Ku buka telefonku dan mulailah mencari kontak telefon Farah, tak berapa lama akhirnya kutemukan kontaknya, Lalu ku telefon dia. “Halo Far selamat malem” kumulai bicara. “Halo Ozza selamat malem juga, ada apa ya za? Tumben  sudah malem begini telefon” jawabnya penasaran. “Jadi begini Far, mungkin ini terlalu cepat buat kamu, namun aku pikir ini waktu yang tepat Far, jujur aku sayang sama kamu, aku suka sama kamu Far, kamu mau ngga jadi pacarku?” Farah pun terdengar kaget mendengar ucapanku itu. “Bisa ngga za aku minta waktu buat jawab, besok sepulang sekolah kita ketemu ya di taman sekolah, gimana za? aku ngga bisa jawab sekarang”. Jawab Farah. “ya udah deh kita besok bertemu di taman sekolah, aku harap kamu menjawab dengan kejujuran hati kamu. Ya udah.. aku mau belajar dulu “... Selamat malam farah” Jawabku mengakhiri pembicaraanku dengan Farah.


Keesokan harinya, di siang hari yang panas membuat suasana yang berbeda bagiku.. tet.. tet.. tett... Akhirnya bel pulang sekolah berbunyi. Hati ku berdebar, menuju taman sekolah menunggu jawaban dari Farah. Di sana Farah pun juga sedang menunggu. “Hai far, gimana yang tadi malem? aku tulus sama kamu Far” aku membujuknya. “sebenarnya aku juga suka za sama kamu, sejak pertama kita bertemu, Jadi aku mau”. Jawab farah mantap. “Makasih yahh ,aku ngga akan ngecewain kamu”. Kataku sambil senyum dan bahagia.

Hari-hari ku lebih berwarna di sekolah semenjak farah selalu di samping ku. Tapi aku juga tak melupakan sahabatku. Walau bagaiman pun Leo adalah orang yang penting dalam hidupku. Aku juga berbagi kebahagiaanku dengan Leo.

Hari senin ini Leo terlihat pucat, aku sangat khawatir padanya “Leo, kamu terlihat pucat, kamu sakit?” Tanyaku penuh khawatir. “ahh.. nggak kok za ,mungkin karena tadi aku cuma sarapan sedikit, ngga papa kok za”.  Jawabnya lemas. “Leo aku tau, ngga mungkin lah kalo Cuma sarapan sedikit membuatmu jadi pucat? Udah deh mendingan kamu ke uks aja, ngga usah ikut upacara sebentar lagi juga sudah mau mulai” bujuku pada Leo. “Kamu itu terlalu khawatir aja za,aku tuh gak kenapa-napa, beneran deh” sahut Leo membantah nasehatku. Bel sudah berbunyi. Kami pun terburu buru berlari menuju ke lapangan.

Saat pengibaran bendera, tiba-tiba bruukkk..!! Leo pingsan. Aku dan teman-teman membawanya ke UKS. Tapi Leo belum sadar sampai upacara telah selesai. Terpaksa Leo tidak mengikuti pelajaran padahai l jam perama adalah jadwalnya ulangan Bahasa indonesia.

Tet.. tet... tet... !! Bell istirahat berbunyi. Aku segera berlari menuju UKS. Dan mataku terbelalak melihat Farah sedang bepegangan tangan dengan Leo. Mereka terlihat mesra sekali. Aku tak bisa membohongi bahwa hatiku sakit melihat pacar sendiri bermesraan dengan orang lain. Aku benar-benar tak habis pikir. Aku sangat kecewa meliahat itu semua. Aku berlari dan Farah pun mengejarku. “Ozza.. Oza..!! tunggu.. aku.. bisa jelasin” panggilnya padaku. “Udah lahh.. semua udah jelas. Ngapain kamu kesini?” sana temenin aja tuh Leo, dia kan lagi sakit. Tinggalin aku sendiri..pergii..!!” aku kasar padanya. “Ozza aku bisa jelasin semua nya.. kamu Cuma salah paham, oke..!” Farah menjelaskan padaku dengan muka sedihnya. “Udah lahh.. kurang jelas bagaimana lagi coba, Kamu ninggalin pelajaran cuma buat nemenin Leo di UKS” jawabku dengan ketus. Aku berlari menuju kelas. Hatiku bingung aku benar-benar tidak percaya sahabat yang selama ini aku percaya, sekarang malah menghianati ku dasar “penghianat!!” Ya.. mungin itu sebutan yang tepat untuk Leo. Aku sudah tidak mempercayainya lagi. Ternyata dia menusukku dari belakang.

Telefon dari Farah tidak pernah ku angkat, sms tidak satupun aku balas, aku masih kesal padanya. Hari-hariku di sekolah berubah 360 derajat. Aku tidak pernah berbicara lagi dangan Leo semenjak kejadian itu. Sebenarnya aku ngga tega melihat Leo tapi aku masih sakit hati.

Bel pulang sekolah berbunyi, aku ke kantor mengumpulkan tugas Fisika dari pak Didi. “Ozza..!!” suara Farah mengagetkanku, aku hanya menengok tanpa berkata apapun. “Za kita jenguk Leo yuhh?” kata Farah. “Maaf aku sibuk, ngga ada waktu buat hal hal yang gak penting kaya gitu” jawabku. “Tapi Za Leo kritis tadi mamanya telefon aku dan Leo ingin sekali bertemu dengan mu, ayo dong Za.. sekali saja, apa kamu gak kasihan sama Leo?” Farah terus membujuku. Tak tega mendengar nya aku juga tidak bisa membohongi perasaanku kalau aku sebenarnya mengkhawatirkan Leo juga. Akhirnya aku dan Farah pergi ke rumah sakit.

“Tante Leo sakit apa?”  tanya Farah pada mamanya Leo. “Nak.. nak Ozza nak farah, Leo terkena kanker otak stadium akhir, sebenarnya dia sakit sudah lama, tapi dia tidak ingin menunjukan sakitnya itu kepada orang lain. Aku dan Farah masuk ke kamar Leo. “Ozza, kamu mau jenguk aku? Za maaf banget yaa masalah yang kemarin. Aku bener-bener minta maaf” Kata Leo padaku.” Udah Leo kamu gak usah mikirin itu lagi. Justru aku yang harusnya minta maaf sama kamu, Farah sudah cerita semuanya ke aku.Tadi di perjalanan, Farah menceritakan semuanya padaku” jawabku. Farah berkata “Za, sebenarnya aku sama Leo udah lama pacaran, tapi aku tak tahu apa yang ada di pikiran Leo, Leo menyuruh aku untuk deket sama kamu, sampai saat ini aku masih bertanya-tanya mengapa? Dia hanya berkata kalo kamu adalah orang yang tepat buat aku. Sebenarnya aku bingung Za.” Hatiku sontak terkejut, ternyata Leo mengorbankan perasaannya untuk kebahagiaanku ,aku tak kuasa menahan air mataku. “Maaf yaa aku ngerebut Farah dari kamu, aku bener-bener belum tau kalau kamu sama Farah pacaran sejak lama. Aku malah jadian sama Farah tanpa tau perasaan kamu. Aku minta maaf banget ya, mungkin penghianat adalah julukan yang tepat untukku”. Tapi di sini tidak ada yang penghianat. Aku bukan penghianat, Leo bukan penghianat, dan Farah bukan penghianat. Semuanya adalah orang baik.


No comments:

Post a Comment