Wednesday, 2 August 2017

CERITA PENDEK (CERPEN) RIDHO KYAI


Penjara suci, tempat dimana sekarang aku tinggal, tempatku belajar dengan dengan segala aturan yang ada, orang lain sering menyebut dengan nama pondok pesantren. Namaku Tofiq, sudah lebih dari 4 tahun aku di penjara ini, selama itu pula aku belajar memahami apa yang diajarkan disini, berusaha ta’dim pada romo kyai.
CERITA PENDEK (CERPEN) RIDHO KYAI
CERITA PENDEK (CERPEN) RIDHO KYAI

Berkat itu pula aku bisa dekat dengan romo kyai walaupun dekat dengan romo kyai  aku tidak terlalu pintar tentang agama untuk ukuran santri-santri yang sudah lama mondok, maklum saja aku tidak terlalu paham dengan apa yang diajarkan disini. Hal ini berbeda dengan temanku yang sama–sama dekat dengan romo kyai, walaupun dia baru mondok sekitar dua tahun dia dengan cepat memahami apa yang diajarkan di pondok ini. Namanya Fiky dia termasuk teman dekatku, namun dia berbeda denganku atau santri yang lain. Dia sering ikut perlombaan debat pembahasan kitab, sebagai perwakilan pondok pesantren kami.

 Banyak santri lain yang iri padanya, karena dia santri baru yang bisa langsung dekat dengan romo kyai dan juga bisa langsung memahami apa yang diajarkan. Romo kyai juga terlihat simpati padanya, ia sering dipanggil ke rumah pak kyai atau kami biasa menyebut ndalem, dia sering membaca kitab-kitab milik romo kyai ataupun sekedar berbincang santai. Padahal hal semacam  itu adalah kesempatan yang tidak semua santri bisa dapatkan. Aku juga sering berbincang dengan romo kyai tetapi tidak sampai bisa membaca kitab-kitabnya, aku lebih suka mengobrol dengan putrinya yang bernama Ainul. Ainul termasuk idola di pondok ini selain dia adalah putri dari romo kyai dia juga berwajah cantik dan sholehah.

 Banyak santri yang mengidamkan bisa melamarnya tetapi dia sangat tertutup dan hanya mau mengobrol dengan yang sudah akrab saja. Berbeda dengan Fiky karena dia sering berada di rumah romo kyai dia bisa langsung akrab dengan Ainul, walaupun Fiky terlihat acuh pada Ainul tetap saja itu menyebabkan kecemburuan santri lain, tetapi sepetinya Ainul menyimpan rasa pada Fiky. Pernah aku tanyakan hal ini, “ Apakah kamu menyukai Fiky ?” dia hanya tertunduk diam dan tidak mengatakan apapun, tapi saya tau jawabanya pasti iya karena pipinya berubah merah dan raut mukanya terlihat malu. Fiky sering berada dirumah romo kyai bersamaku sebagai abdi ndalem yang melayani apapun kebutuhan dan perintah romo kyai.

Akhir-akhir ini Fiky terlihat jarang berada di area pondok padahal biasanya dia selalu berada di pondok dan keluar hanya untuk membeli kebutuhannya. Sekarang Fiky juga jarang membaca kitab-kitab milik romo kyai, dia juga lebih sering keluar entah kemana sampai-sampai romo kyai pernah bertanya padaku, “ Tofiq, dimana Fiky kok sekarang jarang terlihat, apa kamu tau dimana dia?” walaupun hanya pertanyaan seperti itu saya sudah paham apa maksudnya, saya bergegas pergi ke asrama putra dan meminta salah satu santri untuk memata matai Fiky, kemana dia sering pergi akhir-akhir ini. Setelah beberapa hari aku mendapat laporan bahwa Fiky sering pergi ke danau bersama seorang wanita. Aku tentu saja tidak percaya, mana mungkin Fiky berduaan dengan wanita yang bukan muhrimnya. Sesegera mungkin aku menyelidiki hal ini, kebetulan sore itu fiky sedang berjalan keluar, langsung saja aku ikuti, ternyata benar dia peergi ke danau untuk menemui seorang wanita yang menurutku asing wajahnya.


Tak menunggu waktu lama lagi aku langsung menuju ke ndalem dan melaporkan apa yang baru saja aku lihat. Malam itu juga Fiky dipanggil ke ndalem oleh romo kyai, Fiky terlihat begitu santai menuju ndalem romo kyai, namun setelah romo kyai bertanya “ Apa yang kamu lakukan sore ini ?” raut wajah Fiky langsung berubah seolah-olah takut rahasianya terbongkar tetapi dia langsung mengelak dan menjawab tidak melakukan apa apa. Namun romo kyai kembali bertanya dengan nada yang lebih tinggi “ apakah benar kamu tadi berduaan dengan perempuan yang bukan muhrimmu?” mendengar pertanyaan itu Fiky tidak bisa berbohong lagi dan mengakui semua perbuatanya. Aku yang menyaksikan perbincangan itu hanya bisa diam & melihat saja. Setelah selesai  dinasehati romo kyai Fiky kembali ke asrama putra dengan wajah lesunya. Hari berganti, Sudah satu minggu lebih dia tidak ke rumah romo kyai namun tak di duga hari ini dia pergi ke rumah romo kyai dengan membawa  barang–barangnya.

Fiky berpamitan padaku bahwa dia akan pulang & menikah dengan perempuan waktu itu. Kemudian dia menemui romo kyai  & mengatakan hal yang sama. Romo kyai kemudian  bertanya padanya “apakah kamu yakin dengan putusanmu?” Fiky menjawab itu dengan mantap, romo kyai kembali “Padahal kamu akan kunikahkan dengan putriku, apakah kamu mau?” pertanyaan itu membuatku kaget karena tentu saja semua santri menginginkan hal itu. Tapia apa yang dikatakan Fiky dia menjawab dengan nada tinggi & lantang “tidak !! Saya akan tetap menikah dengan wanita pilihanku!!”. Seketika itu romo kyai berdiri dan berkata dengan keras “Baiklah jika itu maumu, pergilah sana, tidak barokah ilmumu!!” Fiky langsung pergi dengan wajah kesal.

Ini menjadi berita besar & hampir semua santri mengetahuinya. Setelah beberapa bulan beritanya mulai menghilang. Aku yang pada hari ini sudah lebih dari 5 tahun hampir 6 tahun mondok disini. Memutuskan untuk pamitan dari pondok ini. Aku pamit baik-baik  pada romo kyai & diperbolehkan.

Tak lama setelah memutuskan pulang dari pondok aku berusaha mencari pekerjaan. Ternyata di daerahku membutuhkan guru mengajar di madrasah. Aku memutuskan bekerja di sana & diterima. Aku terus pergi membeli kitab. Pada saat di angkot aku seperti mengenli sosok supir angkotnya, aku memberanikan diri untuk menegurnya. “kok anda mirip dengan temanku sewaktu saya mondok?” dia menoleh dan langsung bertanya kembali “apakah kamu tofiq? Ya aku fiky teman mondokmu dulu” aku terkaget karena dia yang dulu pintar agama kok hanya menjadi supir angkot. Aku kembali bertanya “kok kamu jadi supir angkot, bukankah kamu pintar agama, kenapa tidak jadi guru ngaji saja?” Fiky menjawab dengan nada rendah bahwa apa yang dia pelajari sewaktu mondok tiba-tiba hilang begitu saja. Dia tidak lagi ingat ilmu-ilmu yang dulu ia kuasai. Setelah mendengar jawabanya aku memutuskan untuk turun dari angkotnya.


Dari pengalamanku ini aku jadi tau apa yang disebut ilmu yang barokah dan apa yang dimaksud ridho kyai, jadi walaupun kita pintar tapi kalau tidak dapat ridho kyai ilmu kita tidak akan bermanfaat. Hal ini juga saya alami, entah bagaimana sekarang aku jadi paham dan mengerti tentang ilmu yang kupelajari dulu di pondok walaupun dulu aku tidak paham sama sekali, tetapi sekarang aku paham di luar kepala, mungkin ini yang dinamakan barokah dan ridho kyai.

No comments:

Post a Comment