Tuesday, 29 August 2017

Cerita Pendek “Cerita Hidup Aku”


Apakah kamu tahu arti sebuah persahabatan? Ya benar, orang ketiga dalam kehidupan kita, selain orang tua dan saudara kita. Karena sahabat adalah orang yang sangat dekat dengan kita, layakna saudaran bahkan lebih dari sebuah saudara.
 
Cerita Pendek “Cerita Hidup Aku”
Cerita Pendek “Cerita Hidup Aku”
Iya memang benar, dilihat dari paragraf pertama tema cerita ini sudah terlihat jelas bahwa cerita ini bertemakan persahabatan. Cerita ini berawal dari saat saya naik kelas enam di Madrasah Ibtidaiyah, atau biasa dibilang Sekolah Dasar atau SD. Waktu itu adalah awal saya masuk sekolah setelah liburan kenaikan kelas dan waktu itulah saya pertama kali menyandang gelar kelas enam di Madrasah Ibtidaiyah. Pada saat itu saya masuk sekolahnya telat, hahaha… sungguh sangat memalukan. Mungkin pada hari itu adalah pertama masuk sekolah, bisa dibilang masih malas – malasnya masuk sekolah. Karena saya terlambat masuk spontan saat aku membuka pintu langsung disambut dengan suara ejekan yang keluar dari mulut teman – teman saya. Memang kejadian seperti itu sungguh sangat memalukan sekali, jika mental saya seperti mental kerupuk mungkin juga saya akan pingsan di depan teman – teman saya dan juga guru yang mengajar. Alhamdulillah mental saya seperti mental baja, jadi saya tidak jadi pingsan di depan teman – teman saya.

Karena keterlambatan ini saya kebagian tempat duduk disebelah belakang sendiri,  lagi – lagi di sebelah pojok. Nah… di sinilah cerita persahabatan ini dimulai. Pada saat itu saya duduk bersama seorang anak laki – laki dan di situlah kami saling berbincang – bincang tentang masalah persekolahan.

Kamipun sering berangkat sekolah bersama, pulang sekolah bersama, duduk pun satu meja, mengerjakan tugas di sekolah pun selalu diskusi. Walau tugas itu adalah tugas ulangan harian yang harus dikerjakan sendiri – sendiri bukan malah diskusi atau juga bisa disebut tugas perorangan. Kamipun sering mengerjakan tugas rumah bersama, les di rumah guru pun bersama.

Teringat waktu kita berangkat les bersama – sama menaiki sepeda satu. Waktu itu adalah waktu malam hari, kami di sini sama – sama suka keluyuran di malam hari. Entah kenapa kalau keluyuran di malam hari rasanya bebas atau free. Karena les di waktu itu dilakukan di malam hari. Kami pun tidak hanya punya niat hanya untuk berangkat les atau belajar saja. Tetapi kami punya niat ganda yaitu, mau berangkat les atau belajar dan mau pergi bermain juga.

Karena itulah kami sering berangkat les lebih awal. Karena kami sering menghampiri teman – teman yang lainnya. Kalau kami berangkat les sambil bersepeda. Disitulah kesenangan kami berdua, bisa belajar dan juga bisa bermain atau sekaligus bersenang – senang sekalipun. Walau merasa pusing dan merasa ngantuk sekalipun akan jadi hilang kebawa kegembiraan, keasyikan, dan kesenangan kami berdua saat bermain.

Di saat les itulah kami sering bercanda. Entah kenapa kami selalu bercanda selagi kami bersama, walau sudah ditegur berkali – kali sama guru les kami, bahkan sampai dimarahi habis – habisan sama guru les kami. Tetapi kami malah tidak kapok, bahkan sampai bisa – bisa kami tambah serius bercandanya sampai – sampai guru kami marah dan les pun dibubarkan. Dan tidak hanya guru les yang marah, tetapi teman – teman seperguruan kami juga ikut marah dan kesal kepada tingkah laku kami yang tidak sopan dan juga membuat gaduh atau rusuh orang lain. Dan teman – teman seperguruan kami kecewa malam itu tidak lagi les atau les tidak jadi diteruskan gara – gara guru lesnya marah, karena ulah kita berdua.


Karena kejadian itu, sampai – sampai orang tua kita berdua dengar dan tahu tentang tingkah laku kita berdua disaat belajar les ataupun di sekolah. Dan di malam kedua kami pun mengulangi perbuatan tersebut, akan tetapi tidak separah pada hari yang sebelumnya. Sampai les dipulangkan kami pulang dengan begitu senangnya dan tertawa terbahak – bahak sampai di rumah. Akan tetapi sesampainya aku di rumah suasanapun berubah, yang dulunya aku begitu senang dan bahagia suasana pada waktu itupun berubah menjadi ketakutan, tegang, dan merasa bersalah. Karena pada saat itu yaitu pada saat aku sampai di rumah aku disambut dengan kata – kata amarah yang keluar dari mulut orang tuaku. Waktu itu aku dimarahi habis – habisan oleh orang tuaku. Sampai – sampai aku merasa bersalah yang sangat mendalam pada guruku dan teman – teman seperguruanku.

Di pagi harinya, seperti biasa aku dan temanku berangkat sekolah bersama, dengan perasaan bersalah. Pada waktu itupun aku cerita kepada teman sebangkuku tentang pengalamanku sesampainya di rumah setelah pulang les bahwa aku dimarahai habis – habisan sama orang tuaku. Akan tetapi, bukannya aku diberi nasihat atau ditenangkan eh malah – malah aku ditertawakan oleh teman – temanku. Akupun menjadi malu dan sangat menyesal. Dalam hati aku tidak akan mengulangi lagi perbuatan seperti itu lagi.

Setelah itu guru yang mengajarpun datang, suara tawaan dan ejekan yang keluar dari mulut teman – temanku spontan langsung hilang dan suasanapun menjadi hening. Dan disaat setelah pelajaran selesai akupun mengumpulkan teman – temanku semua untuk meminta maaf kepada teman – temanku yang telah aku kecewakan. Dan di saat itulah saya tersadar, betapa terhormatnya seorang guru. Karena guru adalah orang tua kita yang kedua setelah orang tua kandung kita, sungguh mulianya seorang guru yang harus sangatlah kita hormati.

Walau penyesalan ini melanda pada diriku,  tetapi bukan ini salah satunya alasan yang dapat mengurangi kekompakan dan keceriaan kami berdua. Seperti biasanya, kami juga masih sering bercanda tetapi bercandanya kami ada batasnya, dan tidak lagi seperti dulunya, yang setiap waktu bercanda terus selagi kami masih bersama. Akan tetapi sekarang kami lebih mementingkan nasihat guru dari pada omongan kita berdua ataupun omongan teman – teman yang lainnya. Ya mungkin di sini kami telah tersadar bahwa dulunya kami sudah berjalan di jalan yang salah. Dan kini kami telah memulainya kembali dari nol atau dari bawah menuju ke atas dan seterusnya. Akan tetapi, sesampainya kami lulus dari Madrasah Ibtidaiyah ini kami terpisah, karena kami berbeda sekolah. Dia sekolah di MTs Sangubanyu, dan saya sekolah di MTs Negeri Kutowinangun yang jauh dari daerah tempat kami tinggal. Dan kamipun jarang ketemu terkecuali kami ada musyawarah bersama kami pun bisa ketemu.

Setelah kami lulus dari MTs atau Madrasah Tsanawiyah kamipun dipisahkan lagi, karena kami juga berbeda tempat belajar lagi. Dia memilih melanjutkan pendidikannya di Ponpes atau Pondok Pesantren, sedangkan saya memilih untuk melanjutkan sekolah yang lebih tinggi. Dan sampai sekarang kami jarang ketemu. Apabila kita bertemu kalau Dia pulang dari Ponpes atau sedang libur dan bisa pulang. Demikianlah cerita dari saya, semoga dapat menghibur dan bermanfaat bagi yang membaca. Sekian terima Kasih. 

No comments:

Post a Comment