Monday, 31 October 2016

Memahami Pasir dalam Ilmu Bangunan


Memahami Pasir dalam Ilmu Bangunan merupakan hal yang penting bagi siapa saja yang ingin mempelajari ilmu bangunan lebih dalam. Mungkin anda sudah tahu perbedaan antara pasir dan kerikil. Satu-satunya perbedaan antara pasir dan kerikil adalah dalam ukuran butir-butirnya.
 
Memahami Pasir dalam Ilmu Bangunan
Memahami Pasir dalam Ilmu Bangunan
Pasir terjadi melalui cara yang sama seperti kerikil. Jika kita melihat batasnya, maka batas antara kerikil dan pasir itu ditentukan dengan ukuran kurang lebih 2 mm. Besarnya butir-butir pasir ditentukan dengan ukuran antara 212 sampai 2000 mm. Pasir kasar ukurannya antara 600 sampai 2000 mm. Pasir setengah kasar ukurannya antara 212 sampai 600 mm. Pasir halus ukurannya antara 63 sampai 212 mm.

Jenis-jenis pasir sangat beranekaragam. Contoh jenis pasir yang pertama yaitu pasir gunung. Pasir gunung ditemukan di daeerah-daerah yang terletak agak tinggi. Seringkali pasir gunung ini mengandung kerikil halus dan tanah napal.

Jenis pasir yang kedua adalah pasir sungai. Pasir sungai mempunyai butir-butir yang tidak bergesek bulat. Massa pasir sungai ini begitu kecil, sehingga butir-butirnya terbawa oleh air, tanpa selalu menggelinding di dasar sungai. Dengan demikian jenis pasir sungai ini dapat mempertahankan sisi-sisinya yang tajam. Maka kita pun berbicara tentang pasir tajam. Jenis pasir sungai ini sangat baik untuk membuat mortel (aduk) karena unsur-unsur pengikatnya dapat mencekal dengan baik pada permukaan kasar butir-butir tersebut.


Jenis pasir yang ketiga yaitu pasir laut. Pasir laut ditemukan dalam dan sekitar laut. Pasir laut banyak mengandung kapur dikarenakan sisa-sisa kulit kerang.

Jenis pasir yang keempat adalah pasir pegunungan tepi pantai. Pasir pegunungan tepi pantai ini ditemukan ditepi pantai. Di negeri belanda, gunungan-gunungan demikian disebut “duinen”. Sama dengan pasir laut, pasir pegunungan tepi pantai pun banyak mengandung kapur. Dikarenakan tiupan angin, butir-butir pasir jenis ini menjadi bulat, sehingga pasir gunung tepi pantai ini tidak baik untuk mortel. Dengan demikian pasir pegunungan tepi pantai adalah pasir laut yang terbawa angin. Pembulatan butir-butir disebabkan pula oleh arus laut dan terpaan ombak.

Jenis pasir yang kelima yaitu pasir perak. Pasir perak ini banyak menampakan kilapan. Pasir perak digosokan sebagai penghias pada dinding dan langit-langit.

Jenis pasir ke enam adalah pasir lembek. Pasir lembek merupakan pasir halus dengan butir-butir bulat, yang sedikit mengandung tanah liat namun banyak mengandung lumpur, sehingga dengan demikian pasir lembek ini sedikit banyak mengandung air. Yang dimaksud mengandung air adalah bercokolnya air di antara pori-pori material bersangkutan. Pori-pori ini adalah ruang di antara butir-butir, yang sangat kecil pada jenis-jenis tanah yang mengandung tanah liat. Pada pasir biasa, pori-porinya begitu besar sehingga jenis tanah ini hanya sedikit saja mengandung air.

Jenis pasir yang ke tujuh adalah pasir timah. Pasir timah ini berwarna abu-abu timah. Pasir timah yaitu pasir dari sisa-sisa humus dan pasir yang dihanyutkan oleh air hujan.

Jenis pasir yang kedelapan adalah pasir yang digiling. Pasir yang digiling nama lainnya adalah silt. Silt hanya sedikit memiliki kemampuan mengikat air. Selain itu, silt sukar dibebaskan dari air dan pembebasan ini memerlukan banyak waktu. Silt yang dikeringkan dapat kita remukkan, berbeda dengan tanah liat yang dalam keadaan kering seolah berubah menjadi batu. Besar butirnya ditentukan 2 sampai 63 ┬Ám. Silt merupakan nama internasional untuk tanah napal.  


No comments:

Post a Comment