Thursday, 8 September 2016

Penyebab Autisme dan Diagnosis Penyebabnya


Penyebab autisme dan diagnosis penyebabnya antara lain:

1.      Konsumsi obat pada ibu menyusui
Beberapa jenis obat yang sering dipakai dan perlu dihindari selama menyusui adalah obat antalergi atau antihistamin, obat migraine, obat tidur dan obat penenang, obat antimuntah, hormon, antibiotik serta beberapa jenis vitamin dalam dosis terlalu tinggi.


2.      Gangguan susunan saraf pusat
Pada anak autis, terdapat pengurangan jumlah sel purkinje di otak. Hal ini menyebabkan kekacauan pada proses penyaluran informasi antar otak. Selain itu, ditemukan adanya kelainan struktur pada pusat emosi di otak sehingga emosinya sering terganggu.

3.      Gangguan metabolisme (sistem pencernaan)
Ada hubungan antara gangguan pencernaan dengan gejala autis. Suntikan sekretin dapat membantu mengurangi gangguan pencernaan.

4.      Peradangan dinding usus
Sejumlah anak penderita gangguan autis, umumnya, memiliki pencernaan buruk dan ditemukan adanya peradangan usus. Peradangan tersebut diduga disebabkan oleh virus.

5.      Faktor genetika
Gejala autis pada anak disebabkan oleh faktor turunan. Setidaknya telah ditemukan dua puluh gen yang terkait dengan autisme. Akan tetapi, gejala autisme baru bisa muncul jika terjadi kombinasi banyak gen.

6.      Keracunan logam berat
Kandungan logam berat penyebab kerusakan otak pada anak autis dapat terjadi karena adanya sekresi logam berat. Beberapa logam berat, seperti arsenik (As), antimon (Sb), kadmium (Cd), air raksa (Hg), dan timbal (Pb) serta merkuri.


Selain itu autism terjadi karena adanya komplikasi saat prenatal ( masa dalam kandungan ) dan saat neo-natal ( pada saat proses kelahiran ). Pada saat prenatal yaitu adanya beberapa penyakit tertentu seperti: rubella, TBS tulang, PKU (Phenylketonuria) dan penyimpangan terhadap kromosom ( Fragile- X syndrome). Pada saat neo-natal yaitu prematur; kelahiran yang belum pada waktunya atau usia bayi belum mencapai 9 bulan 10 hari, perasaan takut dari sang ibu untuk hamil dan adanya infeksi terhadap sistem syaraf pusat jaringan otak  bayi.

Jadi dapat kita katakan bahwa penyebab dari autisme diperkirakan adanya faktor genetika, infeksi virus, kekurangan gizi, serta dampak dari polusi udara, air serta makanan yang menjadi pemicu pada fase pembentukan organ tubuh bayi saat usia kehamilan ibu diperkirakan berusia 0-4 bulan. Karena pada fase tersebut merupakan fase kehamilan yang sangat penting

Penanganan Terhadap Anak Autis

a.      Diagnosis Dini
Diagnosis atau pengamatan dapat dilakukan sejak anak usia 0- 6 bulan. Pada saat anak lahir akan terlihat kenampakan atau ciri – ciri pertumbuhan dan perkembangan terdapat anak. Pedoman yang dapat dilakukan untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan anak dapat melihat perkembangan anak  usia 0-5 tahun; berupa perkembangan motorik, perkembangan emosi, perkembangan sosial, perkembangan bahasa, dan perkembangan kognitif. Dari data tersebut dapat diketahui anak mengalami gangguan autisme atau tidak.

b.      Intervensi Dini
Intervensi Dini atau Penanganan Sejak Dini dapat dilakukan pada saat anak berusia 2 – 5 tahun. Semakin dini penangan yang dilakukan maka akan semakin besar kesempatan untuk mengurangi gejala autisme yang terdapat pada anak tersebut, sehingga anak mampu bersosialisasi dengan lingkungannnya. Autisme merupakan gejala neurologis yang menetap dan tidak dapat disembuhkan, namun semakin dini penanganan yang dilakukan akan semakin baik hasil yang dicapai.

c.       Terapi Khusus
Tujuan terapi adalah agar anak autisme mampu mandiri dan mampu bersosialisasi dengan lingkungannya. Jenis- jenis terapi sebagai berikut :


-          Terapi Medikamentosa
Terapi ini menggunakan obat – obatan untuk menekan gejala hiperaktifitas dan agresifitas pada anak. Obat – obatan yang ada di Indonesia adalah dari jenis antidepresan SSRI (selective serotonin reuptake inhibitor ) dan benzodiazepain seperti misalnya fluoxetine ( prozae), sentralin ( zolofit) dan riperidon ( risperdal). Risperdal menunjukan efek yang sangat baik, dimana dalam dosis kecilpun ia bisa secara efektif memperbaiki respon anak terhadap lingkungan. Namun obat- obat lama pun seperti haloperidol, imipramin ( tofranil), dan thioridazine ( melleril) masih bisa dipakai.

-          Terapi Wicara
Terapi yang bertujuan untuk melancarkan otot- otot mulut anak sehingga memudahkan anak untuk berkomunikasi dengan orang lain.

-          Terapi Perilaku
Penggunaan metode ABA ( Applied Behaviour Analysis). Terapi yang bertujuan mendidik anak penyandang autisme, mengurangi perilaku yang sering muncul dan mengganti dengan perilaku yang dapat diterima dalam sosial.

-          Pendidikan Khusus
Pendidikan individual yang terstruktur  bagi penyandang autisme. Pada pendidikan khusus , diterapkan sistem satu guru satu murid.

-          Terapi Okupasi
Terapi yang bertujuan untuk melatih motorik halus dan motorik kasar pada anak.

-          Play Therapy / terapi bermain
Terapi yang dilakukan melalui belajar sambil bermain.

-          Dhiet Theraphy
Terapi makanan pada anak yang mengalami alergi makanan tertentu.

-          Sensori Integrasi
Terapi yang dilakukan pada anak yang mengalami gangguan pada sensorinya

-          Audythory Integration Theraphy
Terapi yang bertujuan agar pendengaran anak lebih sempurna

-          Byomedical Treatment

Penanganan biomedis melalui perbaikan kondisi tubuh agar terlepas dari faktor- faktor yang merusak keracunan ( keracunan logam berat, efek penggunaan obat dan alergi makanan). 

No comments:

Post a Comment