Monday, 2 May 2016

BERLIBUR KE BUKIT WANALELA KEBUMEN

Dingin menusuk tulang seiring suara ayam jantan memanggil matahari. Mataku baru terbiasa melihat terangnya sinar matahari yang cerah. Alarm ku matikan menunjuk angka 05.30. Masih samar samar aku memandang suasana kamar. Perlahan aku berjalan ke kamar mandi membasuh muka kusut ku. Dingin belai air menusuk masuk ke pori pori wajah dan tangan ku.


Jam 06.00 saat  ku langkahkan kakiku ke rumput taman halaman depan rumahku. Segar udara weekend yang biasa penuh dengan asap-asap kotor kendaraan saat hari sibuk. Memang menyebalkan suasana di kota saat hari kerja.

Ketika hangat teh ku minum, terdengar bunyi hp mengganggu waktu santai ku. Ternyata whatsaap dari Oscar sahabat karibku.

“Andre, lu dimana? Lu di rumah kan? Gue bosen di rumah. Gue kerumah lu sekarang”

“Ya, emang gue dirumah. Kesini aja” balasku.

Oscar adalah sahabat aku dari smp. Dia tinggal di Perumahan Mega Permai Purwokerto, yang berjarak 10 km dari  Perum Grand Park Purwokerto yang merupakan tempat tinggalku. Oscar tiba di rumahku dengan motor sport Ninja Kawasaki-nya. Dia juga membawa bubur ayam yang dibelinya di depan komplek, dan kebetulan aku belum sarapan sama sekali. Aku menyantap bersama Oscar sambil bercerita sana sini. Tiba tiba dia mempunyai ide gila untuk pergi ke wanalela kebumen menggunakan motornya. Tentu gila, karena jarak purwokerto kebumen cukup jauh, apalagi dengan mengendarai motor.

“Tapi setelah gue pikir pikir asik juga, car.” Ucapku “Ya emang, tapi lu jangan bilang orang tua gue ya” jawabnya “Ya udahlah yuk siap siap” ajak ku

Aku dan Oscar berangkat sekitar pukul 08.00. Oscar yang menyetir pertama. Dia mengendarai motornya dengan kencang melewati bangunan-bangunan yang tak asing bagiku di Purwokerto. Agak ngeri sebenarnya, dia bisa mencapai kecepatan 130 km/h dan sedikit ugal-ugalan. Masih lama perjalanan menuju wanalela dan semoga aku dan Oscar selamat sampai tujuan.

Sekitar 1 jam perjalanan, Oscar meminta berhenti untuk buang air dan mengisi bensin. Dia juga meminta aku mengambil alih kemudi.

“Gantian dong ndre, lu yang depan” pintanya “Payah lu, baru 1 jam udah minta ganti. Masih jauh loh” ejekku “Kan ngilu bray…” celotehnya. Aku pun melanjutkan perjalanan dan aku yang mengemudikan motor sekarang. Tentunya aku mengendarai motor lebih hati-hati tapi tetap kencang.


“Bro didepan ada polisi, putar balik-putar balik!!!” kejutnya. Aku sedikit terkejut dan memutar balik dengan cepat. Aku membelokan motor ke gang sempit pedesaan di daerah Banyumas dan berhenti. “Emang lu nggak bawa SIM?” tanyaku “Bawa sih tapi kayaknya gue ngga bawa STNK. Gue lupa. Terus gimana?” “Yaudah lihat GPS aja, cari jalan yang nggak lewat situ.” Usulku “Pinter juga lu” pujinya. Akhirnya kita menemukan jalan yang tidak melewati operasi itu, walaupu sedikit memutar. Dan kita melanjutkan perjalanan membelah kota Banyumas yang sedikit asing dengan jalan jalannya. Sudah 2 jam perjalanan mungkin sedikit lagi kita sampai. Aku memutuskan istirahat masih di daerah Banyumas entah apa namanya. Aku dan Oscar hanya berhenti untuk minum es degan.

Sekitar 15 menit kita melanjut kan perjalanan yang menurutku melelah kan, karena Oscar tidak mau bergantian mengendarai motornya. Dan saat aku meminta lagi pun dia tidak mau lagi, karena aku agak lelah harus membungkuk. Tidak terasa menurut GPS sudah sampai di Kroya, dan kita hanya harus berkendara lurus mengikuti jalur alternative di pinggiran pantai. Banyak nama pantai yang kita lewati. Jalannya tidak terlalu bagus masih banyak lubang lubang di sepanjang jalan, dan terpaksa aku memelankan laju kendaraan. Oscar memintaku agar berhenti di salah satu pantai, tapi aku menolak karena menurutku pantainya biasa saja.

Akhirnya aku dan Oscar sampai di jembatan yang menghubungkan antara Banyumas dan Kebumen. Cukup indah, dan kita berhenti sejenak untuk ber selfi-selfi konyol. Ternyata bukit wanalela sudah terlihat. Aku memutuskan untuk melanjutkan agar segera sampai.


Dan penantian lelah akhirnya kita sampai. Keadaan di sini sepi dan masih jarang sampah, mungkin masih jarang orang yang tahu. Dan kita pun naik untuk melihat pemandangan. Alangkah senangnya, sungguh indah pemandangan dari sini, kita bisa melihat garis pantai sepanjang mata memandang bahkan terlihat pulau nusakambangan di Cilacap. Aku melihat bagaikan lukisan Tuhan yang sangat indah mengalahkan lukisan Leonardo davinci. Memang indah ciptaan tuhan yang maha agung. Dan aku bersyukur bukit ini masih terjaga dengan baik. Tidak seperti tempat tempat wisata yang kondisinya sangt kotor. Aku sadar, kita harus menjaga ciptaan tuhan yang indah ini. Setelah puas aku dan ocar pulang dan selamat sampai rumah.

No comments:

Post a Comment