Saturday, 23 April 2016

Berlibur ke pantai Ancol Jakarta

Pada liburan tahun baru kemarin aku dan keluargaku pergi ke Jakarta selain dalam rangka menghabiskan tahun baru aku dan keluargaku juga pergi dalam rangka mengunjungi kerabat jauh yang sudah lama tidak ku temui. Di sana aku bertemu dengan sepupu yang sudah sangat lama tidak aku temui. Disana aku dan sepupuku mrngunjungi tempat-tempat wisata yang populer di Jakarta, seperti Monas, Ragunan, dan pantai Ancol. Dari sekian banyak tempat wisata yang aku kunjungi, tempat wisata yang paling berkesan untuk aku adalah saat aku dan sepupuku menunjungi pantai Ancol. Berbeda dengan gambaranku yang berfikir bahwa pantai Ancol akan seperti pantai-pantai biasa, yang aku temui di pantai Ancol sangat jauh berbeda, ada hal yang baik dan hal yang kurang baik yang aku rasakan.


Untuk hal-hal yang baik atau positif dari pantai Ancol seperti pengelolaan pantai yang sangat modern, sarana dan prasarana yang memadai dan juga sistem penunjang keselamatan yang cukup mumpuni. Hal itu terbukti terdapat banyak tanda peringatan dan banyak rambu-rambu yang menjelasakan larangan apa saja yang tidak boleh di lakukan. Selain itu di sana juga ada penjaga pantai yang siap menolong siapa saja dalam kondisi darurat. Ini pertama kali aku melihat seorang penjaga pantai, bagi orang awam sepertiku yang tinggal di desa sosok penjaga pantai tidak terlihat dan tidak biasa. Dari pandanganku penjaga pantai terlihat seperti pekerjaan yang sangat mulia dimana pekerjaan ini adalah pekerjaan mempertaruhkan nyawa diri sendiri dan nyawa orang lain, itulah kesanku terhadap penjaga pantai.

Selain itu ada hal-hal yang kurang baik atau negativ yang aku rasakan seperti tingkat kebersihan dan juga ketertiban para pengunjung pantai.seperti yang kita tahu orang-orang Indonesia masih kurang peduli dengan lingkungan dan juga peraturan pertama kali aku sampai di Ancol. Aku sudah terkejut terlebih dahulu saat tiba di tempat parkir dimana banyak sekali kendaraan roda dua maupun roda empat yang parkir sembarangan dan tidak teratur. Berbeda sekali dengan suasana tempat parkir yang aku bayangkan. Selain itu Berjalan dari tempat parkir menuju pantai juga sangat miris di kiri dan kanan jalan banyak sekali sampah berserakan. Selain itu, juga kurangnya  sikap peduli dari orang orang sekitar yang sepertinya acuh tak acuh dengan keadaan yang seperti ini terlihat dengan jelas orang-orang membuang sampah tidak pada tempatnya.


­­Terlepas dari itu semua, aku cukup menikmati liburanku disini bersama keluarga dan sepupuku. Banyak sekali wahana-wahana yang mengasikan dan sayang kalau tidak di coba seperti wahana yang mirip pisang. Sesuai dengan bentuknya nama wahana ini adalah Banana Boat. Wahana ini adalah sebuah perahu karet berbentuk seperti pisang yang di tarik oleh speedboat dimana orang-orang duduk  di perahu karet yang melaju dengan cepat karena di tarik speedboat. Sekilas tidak ada yang menyenangkan tapi sepupuku memaksa agar aku mencoba wahana banana boat ini. Setelah aku mencoba wahana ini pandanganku berubah drastis pada wahana ini. Perasaan saat menaiki banana boat ini sangat membekas hingga sekarang dimana saat aku melaju dengan kecepatan tinggi di atas perahu karet rasanya begitu berdebar-debar dan sangat menegangkan. Sekilas aku berfikir apa yang akan terjadi jika aku terjatuh, aku sangat takut pada saat itu meskipun aku memakai pelampung yang akan membuatku tidak tenggelam tapi aku tetap merasa takut.


Sungguh pengalaman yang menyenangkan sekaligus menegangkan dan takkan pernah aku lupakan, tapi sayang sekali libur tahun baru sudah hampir habis. Aku tidak punya waktu yang banyak untuk mengunjungi tempat-tempat populer lainya di Jakarta. Meskipun singkat namun pengalaman berliburku ini sangat menyenangkan. Aku harus segera pulang karena harus kembali masuk sekolah. Seperti pepatah lama mengatakan “Jika ada sumur diladang boleh kita menumpang mandi, Jika ada umur yang panjang boleh kita berjumpa lagi”.  jika aku punya waktu lagi ingin rasanya aku mengunjungi tempat wisata itu kembali itulah pengalamanku di saat liburan tahun baru.

No comments:

Post a Comment