Tuesday, 23 February 2016

Sejarah Puasa untuk Kesehatan

Manusia telah mengenal dan mulai menjalani puasa sejak berabad-abad yang lalu. Karena alasan kesehatan dan penyucian jiwa mereka melakukan puasa. Plato maupun Socrates bahkan konon katanya selalu membiasakan diri berpuasa sepuluh hari dalam setiap bulannya. Alasan Plato dan Socrates melakukan puasa karena sebagai bentuk ekspresi penyucian pikiran.


Seorang dokter muslim kenamaan pada masanya yang bernama Ibnu Sina (980-1037), menggunakan konsep puasa untuk mengobati pasien-pasiennya. Ibnu Sina selalu menyuruh setiap pasien yang berobat kepada Ibnu Sina untuk melakukan puasa selama tiga minggu. Menurut Ibnu Sina, puasa adalah terapi efektif dan murah-meriah dalam menyembuhkan penyakit pasien-pasiennya. Selain itu, Ibnu Sina juga mengatakan: “Puasa Sangat Baik Untuk Mengobati Berbagai Penyakit Kronis”.

Pada Zaman modern seperti sekarang ini, bahkan seorang dokter spesialis kulit dan kelamin yang berasal dari Amerika, yang bernama Dr. Robert Partolo, mengatakan bahwa tradisi mengosongkan perut dan menahan hawa nafsu, sudah diterapkan kepada pasien-pasiennya ternyata merupakan terapi yang mujarab dalam memberantas bakteri sifilis yang terkandung pada tubuh mereka. Dengan melakukan puasa, bakteri itu akan digantikan dengan zat-zat yang menyehatkan. Dokter lain yang bernama Dr. Bernard Mackpadan, adalah seorang dokter dan juga seorang pakar biologi dari negara Amerika. Dr. Bernard Macpadan mengatakan bahwa puasa adalah cara jitu dalam memberantas setiap penyakit yang tidak bisa disembuhkan dengan terapi yang lain.

Dr. Edward Devi dari Negara Amerika Serikat mengatakan, “Makan kala sakit seperti kita memberi makan agar penyakit semakin kuat.” Dokter yang lain masih dari negara Amerika serikat yang bernama Dr. Shelton juga mengatakan bahwa semakin banyak kita memberi makan orang sakit, maka kita membuat dia semakin sakit.


Seandainya kita akan mulai melakukaan pengobatan atau terapi terhadap penyakit dengan cara alami, maka kita tidak jarang mengalami beberapa gejala yang kita tidak inginkan. Gejala-gejala yang muncul biasanya berlangsung dalam waktu dua sampai tiga hari, tetapi ada beberapa kasus gejala yang muncul mungkin dapat sampai satu minggu atau bahkan lebih. Dapat dimungkinkan bahwa gejala-gejala penyakit yang dahulu pernah di derita dan diobati dengan berbagai obat, perlahan akan muncul kembali. Tetapi, kita jangan khawatir karena seandainya kita konsisten dengan pengobatan yang kita lakukan, gejala-gejala itu haya berlangsung dalam waktu sementara saja dan gejala itu adalah bagian dari reaksi positif tubuh yang bisa kita sebut dengan nama healing process atau proses kesembuhan.

Gejala-gejala yang biasanya timbul pada proses penyembuhan antara lain: sakit kepala, lemah, letih, lesu, sulit tidur, mual,  diare, dan nafsu makan berkurang. Timbulnya gejala itu adalah sebagai reaksi alami tubuh. Reaksi muncul penyebabnya adalah karena pada tubuh sedang melakukan detoksifikasi atau pengeluaran racun-racun dan sampah-sampah yang bertumpuk dan hanya membebani tubuh.


Proses penyembuhan dapat kita umpamakan sebagai anak tangga. Anak tangga yang paling tianggi ialah sehat, maksudnya bahwa kondisi tubuh kita semuanya dalam keadaan yang seimbang. Jika kesehatan kita mulai menurun, ia bagaikan sedang menuruni anak tangga. Dalam setiap anak tangga yang dituruninya, akan mengalami tanda-tanda tertentu. Contohnya, pada anak tangga yang pertama ia akan mulai kekurangan tenaga, di anak tangga selanjutnya, ia akan mulai merasakan mual dan kembung, selanjutnya sakit kepala dan seterusya. Pada saat tubuhnya mulai membaik, maka ia bagaikan sedang menaiki anak tangga tersebut. Tubuhpun kembali akan mengalami peristiwa-peristiwa yang sudah terjadi di setiap tingkat anak tangga yang dilaluinya itu. Semoga kita selalu diberi kesehatan yang baik supaya aktivitas sehari-hari kita dapat kita lalui dengan semangat dan selalu sukses.

No comments:

Post a Comment