Wednesday, 3 February 2016

Memahami Archaebacteria (Archaea)

Archaea atau Archaebacteria tidak sama dengan bakteri sebab akan dipaparkan dibawah ini:

1.  Archaea Tidak mengandung peptidoglikan pada komposisi kimia penyusun dinding sel.
2.  Archaea terdiri dari unit isopren dan ikatan eter pada lemak penyusun membran selnya.
3.  Archaea komposisinya RNA-nya.
4.  Hasil dari RNA ribosomnya ialah metionin.


Perbandingan antara archaebacteria dengan bakteri sebagai berikut:

1.  Dinding sel pada archaebacteria tidak mengandung peptidoglikan, sedangkan dinding sel pada bakteri mengandung peptidoglikan.

2.  Lipid membran pada archaebacteria bentuknya beberapa hidrokarbon bercabang, sedangkan lipid membran pada bakteri bentuknya berupa hidrokarbon tak bercabang.

3.  RNA polimerase pada archaebacteria terdiri dari beberapa jenis, sedangkan RNA polimerase pada bakteri terdiri dari satu jenis.

4.  Intron (bagian gen yang bukan untuk pengkodean) pada archaebacteria ada pada beberapa gen, sedangkan intron pada bakteri tidak ada.

5.  Respon terhadap antibiotik streptomisin dan kloramfenikol pada archaebacteria pertumbuhannya tidak terhambat, sedangkan respon terhadap antibiotik streptomisin dan kloramfenikol pada bakteri pertumbuhannya terhambat.

Itulah perbedaan antara archaebacteria dengan bakteri. Sekarang kita akan membahas reproduksinya. Archaebacteria cara reproduksinya adalah dengan cara-cara sebagai berikut: pembelahan biner, pembelahan berganda, pembentukan tunas, dan fragmentasi.

Habitat yang ekstrem misalnya seperti sumber air panas dan telaga garam adalah biasanya itu sebagai tempat hidup Archaebacteria. Jika dilihat dari metabolisme dan ekologinya, bahwa Archaebacteria dibagi dalam tiga kelompok, tiga kelompok itu adalah metanogen, halofil ekstrem (halofilik), dan termofil ekstrem (termoasidofilik).

Kita sekarang akan membahas Archaebacteria jika dilihat dari metabolisme dan ekologinya, bahwa Archaebacteria dibagi dalam tiga kelompok, yaitu metanogen, halofil ekstrem (halofilik), dan termofil ekstrem (termoasidofilik):

1.  Metanogen

Archaebacteria kelompok ini diberi nama metanogen. Kenapa diberi nama metanogen? Jawabanya karena disesuaikan dengan metabolisme energi khasnya yang mebentuk gas metana dengan cara mereduksi karbondioksida. Sifat dari metanogen ini adalah anaerobik dan kemosintetik. Tempat hidup metanogen ini biasanya berada di lumpur, rawa, dan tempat-tempat yang kekurangan oksigen. Metanogen cara memperoleh makanannya adalah dengan cara membusukan sisa-sisa tumbuhan yang mati kemudian menghasilkan gas metana.

Ada beberapa metanogen ditemukan juga bersimbiosis dengan rumen herbivora serta saluran pencernaan rayap sebagai agen fermentasi selulosa. Misalnya: Lachnospira multipara (menghidrolisis pektin), Ruminococcus albus (menghidrolisis glukosa), dan Succimonas amylolitica (menghidrolisis amilum).

Bakteri metanogen bisa bertahan hidup di suhu yang tinggi penyebabnya adalah DNA, protein, dan juga membran selnya sudah beradaptasi. Bakteri metanogen bisa tumbuh dengan baik disuhu 98°C dan bisa mati pada suhu di bawah 84°C.

2.  Halofil Ekstrem (Halofilik)

Sifat dari halofil ekstrem adalah heterotrof. Halofilik ini hidupnya dilingkungan yang berkadar garam tinggi, misalnya di danau air asin atau di Laut Mati. Untuk menghasilkan energi pada halofil ekstrem melakukan respirasi aerob, ada juga beberapa yang bisa melakukan fotosintesis. Klorofil pada halofil disebut bakteriorodopsin. Bakteriorodopsin ini dapat menghasilkan warna ungu. Misalnya ialah Halobacterium. Ada beberapa spesies halofilik yang sekedar toleransi terhadap garam, akan tetapi ada pula yang memang membutuhkan lingkungan 10 kali lebih asin dari air laut untuk hidup. Halofil ekstrem koloninya kelihatan seperti buih berwarna merah-ungu. Kenapa bisa berwarna merah-ungu, karena bakteriorodopsin yang dimiliki halofilik tersebut.

3.  Termofil Ekstrem (Termoasidofilik)

Termofil ekstrem dapat juga disebut dengan nama termoasidofilik sebab hidup ditempat yang bersuhu tinggi dan bersifat asam. Termofil Ekstrem ini hidupnya dengan mengoksidasi sulfur. Termofil ekstrem pada umumnya hidup di lubang vulkanis, kawah vulkanis, dan mata air bersulfur. Bakteri Termoasidofilik ini bisa hidup pada suhu 45-110°C dan pH 1-2.

Termofil Ekstrem contohnya ialah bakteri pereduksi sulfur, Sulfolobus, yang hidup di mata air sulfur Yellowstone National Park, di negara Amerika. Sebagai sumber energi pada bakteri pereduksi sulfur menggunakan hidrogen dan sulfur anorganik.




No comments:

Post a Comment