Sunday, 24 January 2016

Vaksin dan Pembuatan Vaksin Penting untuk diPelajari dalam Kehidupan

Vaksin penting untuk dipelajari dalam kehidupan kita. Dengan kita mempelajari vaksin maka pengetahuan kita tentang ilmu biologi kita akan bertambah. Vaksin memang penting di dunia ini. Hal itu dapat kita ketahui bahwa melalui penerapan bioteknologi, jenis-jenis penyakit yang ditimbulkan dari virus sudah bisa dihindari dengan menggunkan vaksin. Vaksin itu kerjanya sangat efektif terhadap penyakit yang dikarenakan oleh mikroorganisme patogen, didalamnya termasuk virus.


Tubuh menghasilkan antibodi untuk melawan serangan virus adalah merupakan prinsip dasar dari penggunaan vaksin. Vaksin adalah suspensi mikroorganisme antigen (contohnya virus atau bakteri patogen) yang toksinnya atau permukaannya sudah dilemahkan atau sudah dimatikan. Jika manusia diberi vaksin maka tubuh akan bereaksi dan selanjutnya akan membentuk antibodi, sehingga nanti tubuh akan kebal terhadap infeksi patogen pada hari kemudian.

Pembuatan Vaksin

Pada mulanya, pembuatan vaksin dilakukan secara konvensional. Memang kalau kita lihat sejarah, bahwa sejarah memang telah mencatat berbagai peneman vaksin yang bisa mencegah berbagai jenis penyakit pandemik. Edward Jenner pada tahun 1796 telah menemukan vaksin untuk cacar air. Louis Pasteur pada tahun 1885 telah menemukan vaksin untuk penyakit rabies. Setelah itu diikuti penemuan vaksin untuk penyakit yang lainnya. Berikut akan diberikan contoh beberapa Tipe vaksin yang dibuat melalui metode konvensional yaitu sebagai berikut:

1.  Vaksin yang asalnya dari patogen yang sudah dimatikan oleh pemanasan atau oleh bahan kimia. Contohnya: vaksin kolera, vaksin hepatitis A, dan vaksin influenza. Vakisin ini tipenya hanya membentuk respons kekebalan sementara.

2.  Vaksin yang asalnya dari patogen yang dilemahkan. Contohnya: vaksin gondong dan vaksin campak. Vaksin ini tipenya menimbulkan respons kekebalan yang masanya lebih lama.

3.  Vaksin yang asalnya dari senyawa patogenik mikroorganisme yang dibuat supaya tidak aktif. Contohnya: vaksin difteri, dan vaksin tetanus.

Produksi vaksin dengan cara konvensional itu nenyebabkan berbagai jenis efek samping yang merugikan manusia, misalnya sebagai berikut:

1.  Mungkin masih melakukan proses metabolisme (pada mikroorganisme seperti bakteri) pada patogen yang digunakan untuk membuat vaksin.

2.  Kemungkinan masih memiliki kemampuan untuk menyebabkan penyakit pada patogen yang digunakan untuk membuat vaksin.

3.  Biasanya masih ada beberapa orang yang alergi terhadap sisa-sisa sel yang  ditinggalkan dari vaksin yang diproduksi itu, walaupun telah dilakukan proses pemurnian.

4.  Manusia yang kerjanya pada pembuatan vaksin mungkin orang itu bersentuhan dengan patogen, walaupun sudah dicegah dengan pengaman (sarung tangan dan masker).


Pada zaman sekarang telah dikembangkan pembuatan vaksin dengan menggunakan rekayasa genetika, karena untuk mengurangi risiko seperti yang diterangkan di atas itu. Pembuatan vaksin yang menggunakan prinsip-prinsip rekayasa genetika ialah sebagai berikut:

1.  Gen-gen penyebab sakit dari virus/patogen harus diisolasi (dipisahkan) dulu.

2.  Gen-gen tersebut disisipkan kedalam sel bakteri atau kultur sel hewan.  Sel hewan atau sel bakteri yang sudah disisipi gen tersebut dinamakan dengan rekombinan.

3.  Rekombinan itu selanjutnya akan menghasilkan antigen. Kemudian rekombinan itu akan dikultur, sehingga akan diperoleh antigen yang jumlahnya banyak.

4.  Antigen tersebut kemudian akan diekstraksi untuk dimanfaatkan sebagai vaksin.

Contoh-contoh vaksin yang sudah dibuat dengan cara rekayasa genetika misalnya adalah vaksin untuk penyakit gondong, cacar air, poliomyelitis, rabies, dan rubela.

Tahapan pembuatan kultur pada sel hewan yang dimanfaatkan pada pembuatan vaksin juga adalah salah satu kemajuan dalam bioteknologi. Pada jaringan vertebrata dikasih enzim proteolitik, contohnya tripsin, sehingga sel-sel yang ada di jaringan vertebrata itu akan terpisah. Kemudian sel-sel itu dikasih nutrien jenis tertentu untuk melekatkan sel-sel itu di wadah. Sel-sel itu nanti akan membelah secara mitosis dan akan membentuk satu lapis sel. Pada lapisan sel ini bisa diperbanyak dengan memberikan bahan kimia yang merangsang pembelahan sel. Lapisan sel ini atau bisa juga disebut dengan kultur primer, selain untuk mengembangbiakan virus, juga bisa digunakan untuk membuat kultur sekunder.


Prosuksi vaksin virus ialah yang tertua, itu merupakan dari beberapa penerapan kultur sel hewan. Tahapnya ialah virus ditumbuhkan dikultur sel, contohnya sel dari embrio ayam atau ginjal monyet. Selanjutnya, panen dari virus-virus itu diekstraksi dengan menggunakan penyaringan. Virus itu selanjutnya dilemahkan (disebut vaksin) dan bisa disimpan disuhu rendah sampai siap digunakan untuk keperluan.

No comments:

Post a Comment