Tuesday, 8 September 2015

Unsur Ekstrinsik Teks Cerita Pendek untuk Menginterpretasi Teks cerita Pendek

Mungkin dalam benak kita ada pertanyaan, apakah menginterpretasi teks cerita pendek itu. Maka jawabanya bahwa menginterpretasi teks cerita pendek adalah memberi makna parda teks cerita pendek. Interpretasi bisa juga berarti penafsiran. Kita menafsirkan teks cerita pendek tersebut. Jadi menginterpretasi itu sama dengan memberi makna atau menafsirkan atau memperkirakan. Menginterpretasi teks cerita pendek sangat dibutuhkan untuk mendalami teks cerita pendek itu. Untuk menginterpreasi teks cerita pendek ada beberapa cara. Cara yang akan dibahas pada bagian ini adalah menginterpretasi teks cerita pendek dengan menggunakan unsur ekstrinsik cerita pendek. Unsur ekstrinsik teks cerita pendek sangat bermanfaat untuk menginterpretasi teks cerita pendek.


Unsur ekstrinsik teks cerita pendek antara lain:

1.       Latar belakang penciptaan teks cerita pendek

Jika kita berbicara masalah latar belakang penciptaan tek cerita pendek, maka kita tak lepas sebab terciptanya teks cerita pendek tersebut. Kalau kita berbicara masalah latar belakang maka kita berbicara background atau asal mula kenapa sesuatu bisa terjadi. Sesuatu bisa terjadi itu pasti ada sebabnya. Ingat dalam hukum alam, ada sebab ada akibat, ada siang ada malam, ada gelap ada terang, dan lain-lain. Kesemuanya itu merupakan siklus dalam kehidupan di dunia mayapada ini. Dalam hal teks cerita pendek, latar belakang penciptaan sangat penting sekali. Misalnya jika cerita pendeknya judulnya “Perut Kenyang Sekali” mungkin latar belakang tersebut dulu waktu menulis cerita pendek itu penulis lagi kebanyakan makan sehingga perutnya kenyang banget. Sehingga penulis menumpahkan apa yang saat itu dirasakan lewat tulisan tangan. Contoh lain, misalnya ada certia pendek judulnya “Bambu Runcing” mungkin latar belakang teks cerita pendek tersebut dulu waktu menulis cerita pendek itu lagi semaraknya menggunakan bambu runcing untuk kemedekaan. Sebab kita tahu bahwa bambu runcing adalah senjata pada zaman dahulu untuk memperjuangkan kemerdakan negara tercinta ini.


2.       Keadaan sosial budaya penulis

Budaya adalah kebiasaan yang dilakukan secara berulang-ulang. Budaya ini biasanya sudah ada sejak  nenek moyang di daerah itu. Misalkan, kalau budaya jawa terutama kalau di desa-desa kita mengenal kepungan atau kenduren. Kepungan atau kenduren itu merupakan budaya yang sudah ada sejak dulu dan dilakukan secara turun temurun terutama di daerah-daerah tertentu. Dalam kepungan itu ada hal-hal yang unik yaitu nasi di tampah, dan di kelilingi orang-orang yang melakukan ritual kepungan itu. Tujuan dari kepungan itu antara lain supaya selamat dan hajatnya di kabulkan oleh Alloh. Selain contoh budaya tadi, di jawa juga ada budaya kerja bakti. Kerja bakti juga tidak hanya budaya di jawa saja, tetapi kerja bakti sudah termasuk budaya indonesia. Kerja bakti memang sudah menjadi budaya indonesia sejak dulu kala. Kerja bakti ini merupakan kerja bersama-sama selain untuk memperkuat tali silaturohmi.

3.       Agama Penulis

Agama adalah penuntun jalan hidup manusia. Dengan agama maka manusia akan mendapat jalan di dunia dan di akherat. Agama termasuk unsur ekstrinsik cerita pendek. Misalkan si A agamanya islam, sedang si B agama Kisten. Misalkan si A dan si B di suruh menulis cerita pendek yang temanya ibadah kepada Tuhan. Maka cerita pendeknya pun akan berbeda. Kenapa berbeda? Karena agamanya berbeda.

4.       Pendidikan Penulis

Pendidikan adalah cara untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan termasuk salah satu faktor unsur ekstrinsik cerita pendek, karena pendidikan mempengaruhi hasil karya cerita pendek tersebut. Semakin tinggi pendidikan penulis teks cerita pendek maka pemikirannya luas dan pengetahuannya luas sehingga menghasilkan cerita pendek yang baik dan bagus.

5.       hal-hal lain yang mempengaruhi kehidupan dan cara pikir penulis

Hal-hal yang mempengaruhi kehidupan dan cara pikir penulis misalnya latar belakar penulis itu. Misalkan penulis A di didik dengan latar belakang yang teratur, disiplin, dan keluarga yang bahagia. Sedang kan penulis B di didik dengan latar belakang dari keluarga berantakan. Jika kedua penulis itu di suruh menulis ceita pendek yang temanya Keluarga bahagia, maka ceritanyapun akan berbeda karena cara pikirnya berbeda pula.



No comments:

Post a Comment