Sunday, 26 July 2015

Cerita Pendek (Cerpen) Baju Robek

Pada suatu malam yang dingin, ku duduk seorang diri. Dua ekor cicak di dinding saling bercanda. Canda tawanya membuat aku melihat sambil bertanya, apa yang dilakukan cicak itu. Lalu cicak itu kembali berlari entah kemana. Dikala itu memang nyamuk-nyamuk sangat banyak. 

Nyamuk beterbangan kesana kemari seperti lomba lari. Nyamuk banyak sekali yang menghinggap di 



dinding, sehingga membuat cicak sangat senang sekali. Cicak itu sangat suka sekali pemandangan itu. Dia menikmati makan malam dengan penuh lahap. Lihat cicak sangat lihai sekali menangkap nyamuk-nyamuk itu. Tak terasa cicak itu sudah makan lebih dari lima putuh nyamuk. Wow,,, hebat sekali cicak itu. Satu cicak dalam waktu sekejap makan lima puluh ekor nyamuk, berarti dua ekor cicak dalam waktu sekejap pada saat itu makan seratus nyamuk. Itu hal yang luar biasa. Tapi itu mebuat hati aku riang. Karena kalau nyamuknya banyak sekali itu kalau tidur pasti tidak nyenyak. Kenapa tidak nyenyak? Tidak nyenyak karena tidurnya digigit nyamuk. Kalau aku sedang tidur di kamar kos pada saat kuliah aku dulu, nyamuknya pasti banyak banget. Membuat kulit ku bentol-bentol. Kulitku bentol-bentol karena digigit nyamuk. Nyamuk-nyamuk memang kadang menjengkelkan. Tapi pada malam itu agak sedikit mengurangi nyamuknya. Sehingga pada saat itu tidurnya agak sedikit nyenyak. Cicak sudah makan lima puluh nyamuk tapi kelihatanya cicaknya belum kenyang. Cicaknya masih makan lagi walaupun sudah terlalu banyak makan nyamuknya. Tiba-tiba ada teman cicak datang lagi. Cicak nya sekarang jadi berjumlah tiga ekor. Sekarang cicaknya itu semakin giat makan nyamuk-nyamuk didinding. Cicak yang satu datang baru saja itu memang sedikit semangat makan nyamuk-nyamuk itu. Aku melihat cicak itu sangat lapar sekali. Cicak itu makan nyamuk seperti lomba makan krupuk. Cicak itu makan silih  berganti nyamuk-nyamuk itu. Sekarang aku melihat cicak itu semakin banyak makan nyamuk itu. Ketika aku sedang menikmati pemandangan yang lucu, tiba-tiba aku tidur. Terus saya nglilir pada malam itu. Aku bangun dan melihat cicak yang tadi tidak ada. Pertanyaan yang ada dalam sanubariku adalah, kemana cicak-cicak yang tadi itu? Saya pun tidak tahu kemana arah perginya cicak itu. Mungkin cicak itu pergi ke tempat lain. Tapi kira-kira kemana tempat lain itu? Mungkin tempat lain itu ada di sebelah tembok. Iya, itu mungkin. Tapi saya tidak berantusias sekali untuk menemukan di mana cicak itu. Aku Cuma ingin bangun dari tempat tidur dan sedikit melihat di seberang tembok, tapi kelihatanya hati menolaknya untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi di sebelah tembok itu. Saya Cuma mau bangun dari tempat tidur dan pergi ke dapur hanya untuk minum air putih. Memang kadang-kadang kalo saya nglilir bangun tidur dari malam yang sunyi, aku memang kadang minum air putih supaya tidak kekurangan cairan. Ketika aku sudah minum, terusnya aku pergi ke tempat tidur lagi, untuk melakukan istiahat supaya tubuh aku segar kembali. Ketika aku sedang berjalan, setapak demi setapak menuju tempat tidur, tiba-tiba baju aku robek karena tersangkut paku dimeja di dekat kamar tidur aku. Padahal baju itu aku suka sekali untuk tidur. Baju itu robeknya agak lebar karena paku yang menyangkut baju aku itu cukup tajam sekali. Akupun tadinya tidak menyangka dan tidak menduka apa yang baru saja terjadi pada baju tidur kesukaan aku itu. Ketika aku menyadari baju aku robek, maka akupun akhirnya menerima kenyataan itu. Aku berinisiatif dan merencanakan akan menjahit baju aku yang robek itu besok siang sendiri.    

No comments:

Post a Comment